Senin, 15 Februari 2016

Menanti Kasih Sayang Bupati

Seorang pemimpin adalah seorang penjual harapan.(Napoleon Bonaparte). 65 tahun usia kabupaten Bekasi berdiri setelah pisah akibat proses panjang sebuah pemekaran 19 tahun silam.Sebagai daerah penyangga ibu kota, kabupaten Bekasi selalu jadi magnet kaum urban.Mereka datang silih berganti tanpa henti bahkan tak pernah berhenti.praktis populasi daerah yang memiliki kawasan industri terbesar se-asia ini terus melonjak tajam dari tahun-ke tahun.Data Badan Pusat statistik (BPS) Kabupaten Bekasi 2014 mencatat jumlah penduduk kabupaten Bekasi mencapai 3.112.698 jiwa.

sebagai daerah otonom dengan usia sangat matang seharusnya daerah yang memiliki 23 kecamatan, 5 kelurahan dan 182 Desa dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar se-jawa barat sudah seharusnya mampu mensejahterakan masyarakatnya dengan pantas.Akses kesehatan, pendidikan dan sarana infrastruktur jalan nyatanya masih condong ke wilayah selatan sementara wilayah bagian utara baru sebatas harapan.Pemerintah daerah dirasa masih tebang pilih, masyarakat utara cenderung diabaikan tanpa kasih sayang.

soal pembangunan saja, wilayah Utara seperti “anak tiri” yang harus berjuang untuk mandiri, tanpa ada sentuhan layak Bupati, infrastruktur jalan misalnya di utara sungguh miris dan  memprihatinkan, kalaupun ada sentuhan perbaikan pemerintah hanya melakukan tambal sulam akibatnya selang beberapa bulan ruas jalan yang ditambal pun rusak kondisi ini belum termasuk jalan yang masih beralaskan tanah yang berada di Muara Gembong. Kondisi ini juga sejatinya disadari Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai nahkoda pemerintah daerah namun birahi kepentingan membuat kenyataan samar-samar tanpa kendali.Masyarakat utara seperti memiliki dosa besar kepada pemerintah yang kemudian diabaikan.

padahal jika Bupati serius membangun sebuah daerah nampaknya tidak begitu sulit karena uang yang digunakan sudah siap sedia, Sumber Daya Manusia (SDM) pun menjamur, infrastruktur dianalogikan sebagai lauk-pauk yang harus ada saat makan, oleh sebab itu keberadaan infrastruktur menjadi sangat penting dalam mendukung pembangunan ekonomi dan sosial, karena infrastruktur yang baik tentu mampu meningkatkan efektivitas serta efisiensi bagi dunia usaha maupun sosial kemasyarakatan.  

Masyarakat utara seperti dikecamatan Babelan, Sukatani, Tambelang, Cabangbungin, Muara Gembong hingga Tarumajaya sampai dengan saat ini belum merasakan nikmatnya pembangunan dari hasil pajak yang sudah dibayarkan, warga setempat masih “disiksa” dengan fasilitas apa adanya.

Lantas pertanyaan mendasar adalah mengapa pemerintah hanya condong ke wilayah selatan ? Apa karena disana pusat bisnis dengan berdiri ribuan perusahaan, yang menurut hemat penulis sebagai "lahan basah" padahal di tahun 2015 SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) Kabupaten Bekasi nyaris tembus 1 Milyar rupiah, mengapa uang itu tidak dihabiskan untuk pembangunan di utara, lagi-lagi bupati Neneng tak peduli dengan warganya di wilayah utara. Neneng lebih memilih  berselingkuh. 

Alokasi Pendapan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bekasi sendiri diketahui dari tahun ke tahun terus naik bahkan jumlahnya bisa tembus lebih dari 5 Trilyun, di 2016 saja APBD Kabupaten Bekasi berhasil diketok Rp.5.3 Trilyun. Tetapi pemerintah daerah belum bisa memberikan dampak positif kepada masyarakatnya, kemiskinan justru makin menjamur dan terjadi disemua pelosok desa, Upaya Bupati memberikan terobosan baru untuk menekan kemiskinan dengan membuat program Rutilahu (Rumah Tidak layak Huni) justru dibuat main oleh bawahannya.Praktis kasus-kasus rutilahu banyak beredar menghiasi surat kabar lokal.

Bahkan Data BPS 2013 mencatat jumlah warga miskin dikabupaten Bekasi mencapai 157.700 Kepala Keluarga, angka tersebut belum ditambah jumlah ditahun 2015 akibat gejolak ekonomi yang kian terjun bebas.

Bicara Infrastruktur Jalan, Kabupaten Bekasi seharusnya bisa mencontoh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seperti Kabupaten Bantul, kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunung Kidul, di 3 daerah tersebut tak ada sedikit akses jalan yang rusak, masyarakatnya justru "dimanjakan" oleh pemerintah setempat, akses jalan hingga pelosok desa beraspal mulus tak memandang wilayah "basah" atau "kering" semua warga dinilai sama, mereka sama-sama mendapatkan jaminan kesejahteraan dari pemerintah baik pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang memadai.Sementara Masyarakat di Utara Kabupaten Bekasi sepertinya lelah disiksa rindu dengan fasilitas pembangunan yang layak sehingga kemudian masyarakat memilih "pasrah" terhadap pemerintah daerah.

Dalam pernyataannya di sejumlah media Bupati Neneng sering kali menyebut bahwa 2016 sebagai tahun infrastruktur, untuk itu pemerintah harus bergerak dan memulainya dari wilayah Utara, setidaknya langkah ini bisa menyenangkan hati masyarakat setempat yang sudah lama tak disentuh pembangunan terlebih bagi warga di pelosok desa seperti Muara Gembong yang sampai detik ini masih "disiksa" karena buruknya infrastruktur.Kini masyarakat menanti realisasi janji Bupati Bekasi sebagai nahkoda.

Beberapa hasil studi menyebutkan hasil pembangunan infrastruktur memiliki peran di antaranya sebagai katalisator antara proses produksi, pasar, dan konsumsi akhir serta memiliki peranan sebagai social overhead capital.Infrastruktur dipandang sebagai modal memacu pertumbuhan ekonomi.
                                                                                        

Pembangunan infrastruktur mampu menciptakan lapangan kerja dan memiliki multiplier effect kepada industri. Bahkan, dengan kebijakan dan komitmen yang tepat, selain menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur diyakini dapat membantu mengurangi masalah kemiskinan, mengatasi persoalan kesenjangan antar kawasan maupun antar wilayah, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi tekanan urbanisasi yang semuanya bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

Senin, 01 Februari 2016

Klenteng Tek Seng Bio, Saksi Bisu Masuknya Bangsa Tionghoa di Tanah Bekasi






Suasana Sakral Klenteng Tek Seng Bio begitu terasa dengan aroma dupa menyengat di tiap sudut ruangan saat berada ditempat ini, Asap putih hasil pembakaran dupapun begitu kental terlihat. Suasana itu justru menambah kekhusyuan bagi pengunjung dalam melaksanakan ibadah, ditempat ini pula masyarakat Tionghoa meminta kepada tuhannya.Klenteng yang berada di Jl.Fudholi Desa Karangasih Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi ini merupakan salah satu bangunan tertua di Cikarang yang dibangun sejak tahun 1825.Klenteng Tek Seng Bio menjadi saksi bisu awal masuknya bangsa Tionghoa ke tanah Cikarang, Kabupaten Bekasi yang diperkirakan sekitar abad ke-16.

Menurut ketua badan pengurus yayasan Cakra Utama Klenteng Tek Seng Bio Tjetjep Djaja Laksana menjelaskan bahwa klenteng ini memang merupakan salah satu bangunan tertua di Cikarang dan sebelum dibangun di daerah Karangasih yang saat ini, nama Tek Seng Bio sempat dibangun di kecamatan Karangbahagia namun pada masa itu kondisinya kurang kondusif maka masyarakat Tionghoa memindahkannya ke kampung Tepekong atau yang terkenal saat ini yaitu Jl.Fudholi."Dulu awalnya di Karangbahagia cuma pada waktu itu kondisinya kurang kondusif trus dibangunlah pada tahun sekitar 1825 di karangasih, dulu namanya kampung Tepekong"Ujarnya.

Lebih lanjut ia Mengatakan bahwa berdasarkan cerita dari turun temurun sebenarnya bangsa Tionghoa sudah masuk ke tanah Cikarang sejak abad ke 16."Kalau dari cerita-cerita  leluhur saya dulu orang-orang Cina udah ada di Cikarang dari abad 16, makanya sekarang banyak orang-orang Tionghoa di sekitaran Klenteng ini sampe sekarang dan 85% orang Tionghoa, makanya orang-orang dulu sampe sekarang bilangnya kalo kemari kampung Tepekong meski udah diganti Jl.Fudholi"Ungkapnya

Klenteng yang memiliki luas bangunan 60x50 meter ini sudah banyak mengalami perubahan, namun tidak kehilangan arsitektur aslinya. Bagian bangunan yang masih asli yaitu pada bagian pintu utama masuk ruangan disitu terlihat pintu kusen dengan dua daun pintu khas kayu buatan jaman dahulu kala. Sementara di bagian lain yaitu dua Tambur dan Peti, Tambur tidak memiliki hiasan atau ukiran namun masih berfungsi sebagai alat tetabuh pada saat acara cap gomeh.

Sekitaran Klenteng merupakan daerah pemukiman penduduk baik keturunan Tionghoa maupun warga asli pribumi tetapi umumnya didominasi oleh warga keturunan Tionghoa.bangunan-bangunan di tepi jalan raya Cikarang tepat di depan pasar lama Cikarang dengan arsitektur China yang dulunya sebagai pertokoan juga hingga saat ini juga jejaknya masih terlihat jelas.


Klenteng ini sebagai salah satu bukti bahwa Kabupaten Bekasi sejak abad ke-16 M telah mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina dan secara budaya telah terjadi akulturasi secara damai. Posisinya yang strategis di tengah kota juga menyimpan cerita tersendiri mengapa Bangsa Tionghoa sampai di tanah Cikarang.Wilayah Bekasi pada masa kejayaan Belanda merupakan wilayah yang strategis, Belanda menjadikan Bekasi sebagai satu kota penghubung pemerintahan kolonial, hal ini dibuktikan dengan adanya Kantor Kawedanaan Cikarang di Jl. Gatot Subroto yang kini menjadi Perpustakaan Umum Kabupaten Bekasi.

Menurut cerita Tjetjep Djaja bahwa Bangsa Tionghoa dahulu menjadikan Cikarang sebagai lokasi perdagangan baru selain Batavia, letaknya yang juga tak jauh dari pesisir utara membuat peredaran barang lebih mudah, Bangsa Tionghoa membangun wilayah perekonomian baru di Cikarang seiring dengan dibukanya Kantor Kewedanaan Cikarang, (Kewedanaan adalah perwakilan kepala pemerintahan di bawah bupati diatas kecamatan).”Yang sekarang perpustakaan umum dekat kantor Polsek Cikarang dulunya itu kewedanan dan perekonomian Cikarang pada saat itu begitu maju”kata pria warga karangasih Rt.001/001 Kecamatan Cikarang Utara Bekasi.

Di tengah hiruk pikuk kemajuan ekonomi dan pembangunan Cikarang, Klenteng Tek Seng Bio tetap terjaga keaslian arsitekturnya meski sebagian sudah dipugar dengan diapit bangunan-bangunan tua disekelilingnya yang semakin pudar dimakan usia. Tek Seng Bio menjadi saksi bisu betapa Cikarang pernah mengalami masa kejayaan ekonomi.”Tek Seng Bio menjadi bukti alkulturasi budaya di Kabupaten Bekasi dan saya merasakan itu betapa jayanya pada masa itu sebelum berdirinya mal-mal dan mini market” tandasnya.