Kamis, 28 Januari 2016

Wajah Pasar Bekasi di Perbatasan






Puluhan mata memandang sinis saat saya datang dilokasi pasar diperbatasan antara Kabupaten Bekasi dan Karawang, namanya pasar Bojong letaknya berada di kecamatan Kedungwaringin Kabupaten Bekasi.Belasan lelaki bertubuh kekar terus meneropong dari warung-warung kopi dengan pandangan tajam kesana kemari.Tiba di pasar Kedatangan langsung disambut bau busuk yang cukup menyengat, suasana makin prihatin saat melihat pasar diselimuti sampah-sampah menumpuk ditiap sudut dengan sekat-sekat toko tak beraturan yang sebagian lainnya memaksa berdiri dibawah jembatan rel kereta api.

Pasar tradisional yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan 'pasar Bojong" memang selalu ramai dikunjungi, tidak hanya warga setempat tetapi warga lain yang berada diperbatasan juga turut meramaikan suasana ekonomi.bahkan disebut-sebut lokasi pasar Bojong menjadi andalan masyarakat di dua kabupaten sebagai pusat transaksi jual beli.

jika dilihat dari letaknya pasar tradisional ini berdampingan dengan sungai Citarum sebagai penanda garis perbatasan wilayah, praktis aktivitasnya bisa dilihat dari kejauhan terutama di atas jembatan sebagai penghubung antar dua kabupaten.aroma transaksi jual-beli di pasar tradisional ini memang tidak hanya terjadi bagi warga Bekasi saja tetapi masyarakat Karawang pun turut menghidupkan perekonomian pasar.

uniknya pedagang pasar di tempat ini tidak hanya mengandalkan toko, sebagian dari mereka memanfaatkan lahan kosong yang ada dibawah jembatan rel kereta api untuk mengais rezeki dengan membuka lapak-lapak sederhana, deretan lapak-lapak itu bahkan nyaris mepet dengan bibir sungai Citarum, saat kereta datang transaksi sementara di pending untuk menunggu kondisi senyap dari suara deruan kereta api yang melintas diatasnya.



sebagai pusat ekonomi warga dua kabupaten, pasar tradisional ini mulai beroperasi pada pukul 02.00 WIB, namun di jam-jam itu dominasi pedagang merupakan para pedagang sayur, ikan serta sejumlah kebutuhan pokok lain, menjelang matahari terbit suasana pasar semakin ramai pedagang pun sibuk.

"kalau malam itu untuk pasar sayur mayur dan sebagian ada yang menjual kebutuhan pokok seperti kelontong, karena posisinya digaris perbatasan jadi selalu ramai terutama warga Karawang,"Ujar salah seorang warga Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi David (32).

lalu lalang keramaian pasar ini memang terlihat sangat hidup sebagai pusat ekonomi masyarakat dua kabupaten itu meski kondisinya sangat prihatin karena banyak tumpukan sampah di beberapa sudut yang seolah tidak diurus pihak pengelola pasar yang kemudian membuat aroma pusat transaksi tersebut bau.

Animo warga dua kabupaten ke tempat ini pun sangat tinggi, diperkirakan perputaran uang yang masuk di pasar dengan sebutan "bojong" bisa mencapai ratusan juta rupiah tiap harinya, sebagai pusat ekonomi masyarakat keberadaannya sudah menjadi primadona bagi sebagaian warga sebagai aktivitas jual-beli dengan budaya tawar menawar yang menjadi ciri tersendiri bagi hadirnya pasar "Bojong"ditengah gempuran pasar-pasar modern, keberedaannya tetap bertahan dan menjadi diri sendiri sebagai kebutuhan masyarakat.

Selasa, 26 Januari 2016

Menggugat Identitas Jakarta




                      foto :nett

Ibu Kota Jakarta, sebagai teras depan Indonesia sepertinya lupa menampilkan ruang rupa yang bercirikan Indonesia, Jakarta bukanlah perwujudan keragaman kebudayaan yang terdiri dari serpihan-serpihan kebudayaan segala penjuru Indonesia.
Bahkan Jakarta hanya layak di sebut sebagai metropolitan yang kehilangan identitas. Di Yogyakarta orang dengan mudah menemukan simbol-simbol kebudayaan, dari arsitektur, gerbang, adat-adat yang masih terpelihara, serta aktifitas seni yang masih kental bermakna sebagai simbol kehidupan.
Rasanya tiap negara-negara maju masih banyak mempertahankan ruang publik, tata ruang kota, lajur-lajur gedung, masih kelihatan sebagai identitas negara. Lalu jika melihat Jakarta, apakah yang terwakilkan sebagai kekhasan Indonesia.Yang ada hanyalah simbol-simbol negatif berupa kemacetan, keruwetan tata ruang, tambal sulam pembangunan, serta budaya urban yang lebih menonjol daripada kegiatan terstruktur yang terkelola dalam ruang lingkup kebudayaan.
Jakarta hanya sekumpulan kaum urban yang sibuk mencari uang, sibuk memanfaatkan hiburan untuk melepaskan diri dari rutinitas, bukan untuk dinikmati sebagai apresiasi tinggi terhadap seni budaya. Maka, meskipun sekarang pameran kebudayaan masih marak, kebudayaan yang tertampilkan itu masih hanya serpihan- serpihan yang belum bisa dinikmati semua penghuninya. Yang ada lagi-lagi hanyalah hiburan di layar kaca yang menampilkan kegagapan budaya karena hanya menampilkan hiburan berdasarkan rating penonton, bukan sebagai produk kreatif kebudayaan.

Jangan-jangan beberapa tahun lagi apa yang dinamakan identitas Jakarta sebagai ibukota hanyalah tinggal dongeng, itupun kalau masih ada bapak atau ibu yang sempat bercerita atau mendongeng kepada anaknya, Sungguh miris.Bukankah sekarang banyak orang terbelenggu dengan alat digital yang memudahkan orang berselancar, mengobral kata, terhubung dengan manusia lain tanpa melihat ekspresi secara utuh.Manusia sudah terbang ke dunia maya, terbang bersama fantasi masing-masing, hidup dalam dunia sendiri-sendiri, namun apakah ruang-ruang yang tersekat itu bisa merekatkan jiwa-jiwa?
Kembali membahas tentang identitas ibu kota yang sudah seperti kota dengan beragam keinginan, beragam kemauan, beragam pemikiran, beragam kepentingan. Jakarta terutama adalah miniatur keinginan masyarakat Indonesia yang tergesa-gesa, masyarakat yang ingin cepat kaya dengan berbagai mimpi-mimpi yang dipaksakan. Jakarta sepertinya sebuah kolam besar dengan gejolak, serta kecipak dahsyat yang menderu-deru.
akhirnya apa yang baik di mata wartawan belum tentu cocok dengan keinginan pedagang, politisi, guru, budayawan. semua mempunyai kepentingan, semua mencari muara berbeda. Akhirnya banyak orang hidup dalam penyakit kejiwaan akut. Mereka yang perfeksionis terjebak dalam aturan-aturan ketat namun berbenturan dengan lingkungan sekitar yang masih serba kacau balau.
Bahkan terorismepun lahir dari hilangnya identitas kebangsaan. Ketika kebanggaan diri sudah hilang, banyak orang terjebak dalam mimpi-mimpi mengawang yang akhirnya tertangkap oleh orang yang secara peka memanfaatkan situasi untuk mengindoktrinasi sehingga seperti kerbau dicucuk hidungnya. Yang akhirnya hanya mengikuti kemauan sang pengendalinya tanpa pernah mendengarkan dan mengikuti suara hati nuraninya.
Semoga tulisan ini bukan yang sebenarnya terjadi, penulis masih berharap Ibu kota berubah dan Ibu kota masuk sebagai identitas budaya yang begitu disegani.

Kamis, 21 Januari 2016

Media Massa Senjata Barat Menggebuk Seseorang


Ilustrasi : Media Massa sebagai alat senjata perusak moral diera digital saat ini

Oleh : Muhson Arrosyid, Amarulloh
"Siapa saja yang bisa memegang kendali media massa (Informasi), baik elektronik maupun cetak berarti ia bisa menguasai dunia, Kata-kata ini dipahami oleh bangsa yahudi zionis dan golongan anti Islam. Karena dengan memegang kendali media Massa Informasi mereka bisa menyetir dan mengarahkan masyarakat, baik untuk menghancurkan atau membangun suatu masyarakat. Dengan Informasi mereka bisa menunudukkan musuh atau orang yang anggap musuh. Melalui penyesatan Informasi, fitnah, memutar-balikkan fakta, dan pencitraan negatif dengan menggunakan Kalimat-kalimat, Kata-kata, Gambar, Film, dan lain-lain. Inilah yang sedang terjadi pada umat Islam sedunia dan umat Islam Indonesia khususnya. Yaitu pelecehan agama dan umat Islam lewat media TV dan Massa lainnya. Klo pangeran jaka Umbaran bahasa kita terkena informasi najis Mogholadhoh,
Peristiwa 11 September 2001 hancurnya gedung WTC dan Pentagon di Negara adi kuasa telah berlalu. Kemarahan Negara adi kuasapun telah di lepas tanpa kendali kepada dunia. Ada kemarahan yang berdarah-darah dan adapula perang media, mungkin perang itu disebut oleh presiden Negara adi kuasa sebagai perang salib.Lalu kitapun tergiring untuk kembali menengok kebelakang dengan pengalaman pahit dan begitu memilukan yang oleh banyak orang di duga bahwa umat manusia telah mampu melampuinya. Padahal ini adalah Sunatullah yang tidak Akan pernah meleset, Sunatullah dalam bentuk konflik dan Akan terus berkepanjangan.Hikmah sejarah tidak berbohong, hikmah itu menyatakan bahwa kita adalah umat yang menjadi sasaran musuh sampai kiyamat. Namun cobaan yang menimpa umat ini Inysa Allah Swt Akan berlalu dan berakhir. Akan tetapi cobaan seperti umat Islam Akan terus ada dan sampai waktu yang di kehendaki Allah Swt. Itulah pelajaran agar kita selalu ingat tentang beberapa pengalaman umat Islam beberapa waktu yang lampau. Terbukti kekawatiran kami bahwa peristiwa 11 September 2001 mungkin Akan di jadikan tongkat untuk menggebuk kaum Muslimin dan menggelar peperangan yang menghancurkan umat Islam. Begitulah yang terjadi semenjak hari pertama peristiwa 11 September 2001 ketika media Massa barat dan Zionis secara cepat menuduh kaum Muslimin khususnya di negri kita baik teroris atau isis berada dibelakang peristiwa itu dan sekaligus sebagai pelakunya.
Mungkin saja waktu itu, tuduhan jahat memang telah di siapkan. Tanpa perlu menunggu penyidikan atau penelitian. Tentu saja tuduhan itu memunculkan keraguan dari para pengamat yang akhirnya mereka berkesimpulan bahwa TERORIS (terong di iris-iris dadi sayur) atau ISIS (semriwing), terjadi dalam rangka menyempurnakan rencana licik yahudi dan barat terhadap dunia Islam. Hanya saja kita melihat kegagalan Negara adi kuasa begitu cepat. Hal itu terjadi karena keberadaan Negara adi kuasa di Afganistan. Dilema yang di alami Negara adi kuasa di Irak tidak perlu lagi mendapat penjelasan atau komentar, dan kegagalan AS adalah bukti kebencian terhadap umat Islam yang mengenakan identitas Islam.
 
Hal ini berarti kegagalan sang pemimpin tunggal setelah para Agent-agentnya gagal melaksanakan rencana-rencana dan tujuan-tujuannya. Memberikan alasan kuat untuk mengatakan bahwa kegagalan Amirika berarti awal dari episode akhir Negara adi kuasa yang tidak Akan berlangsung lama jika diukur dengan umur Negara dan sejarahnya.Kita bisa melihat agent Zionis telah gagal dalam menghadapi perlawanan para pemilik hak di Palestina dan di Negara-negara Islam. Para penguasa Arab juga telah gagal mengekang kebangkitan Islam dan menghentikan perjalanannya. Inilah yang paling di takuti Negara adi kuasa dan barat. Sesuatu yang mendorong untuk secara sendiri ikut turun ke Medan laga konflik.

Inilah yang menjadikan bangkrutnya model peradaban barat yang diperankan oleh Negara adi kuasa dalam memimpin umat manusia. Telah tiba saatnya bagi Negara adi kuasa untuk mundur kebelakang dan meningglkan panggung kepemimpinannya setelah umat manusia ini menderita berbagai kesengsaraan dan kehinaan di bawah kepemimpinannya.

Kita tahu bahwa propaganda yahudi ini bertujuan untuk menggaruk kekayaan umat Islam dan Negara-nagara Islam yang memiliki sumber kekuatan alam. Sumber kekayaan mereka diraup oleh Negara tamak, sebagai Negara penjajah baru di zaman modern ini. Mereka kembali datang ke Negara-negar Islam dengan pasukan militer untuk menguasai Negara Islam. Mereka lakukan setelah sistem sekuler mereka gagal menjaga kepentingan mereka, ditambah lagi mereka merasakan adanya ancaman-ancaman Negara sekitarnya. Tuntutan kemerdekaan dan demokrasi. Ancaman yang mereka rasakan terutama terjadi pada kepentingan-kepentingan yang mereka kuasai, mereka menguasai sumber-sumber alam dari Negara Islam. Terutama minyak bumi, ditambah lagi agenda mereka mengawal Negara yahudi israil dari ancaman Negara Islam. Seperti ancaman dari gencarnya perlawanan rakyat Islam di palastina terhadap penjajah yahudi Israel. Masa depan Israil semakin terancam. Selain akibat dari meningkatnya perlawanan rakyat palestina. Juga akibat peningkatan tekanan dan juga populasi penduduk dan tekanan jiwa. Peningkatan ini terjadi setelah terbongkarya rencana-rencana busuk mereka di mata dunia. Sehingga Negara Arab dan Negara Islam sedunia semakin berani memberikan dukungan materi pada perlawanan rakyat palestina, meskipun mereka adalah pemerintah yang otoriter dan diktator.

Propaganda negatif terhadap Islam ini juga bertujuan untuk memojokkan Islam dengan sebutan Islam Isis atau teroris. Cara yang mereka lakukan adalah Menguasai pandangan dan persepektif manusia Akan aksi isis / teroris yang kejam. Aksi yang di lakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak di kenal. Tidak seorangpun tahu dalang di balik semua aksi teroris dan perancangnya, meskipun pelaku-pelaku yang melakukan aksi isis / teroris ini adalah orang-orang Islam. Tetapi kita tidak mengetahui jalas strategi dan rencana ini serta rencana penyusupan badan badan intelijen. Kerja ini kemudian di sempurnakan dengan penguasaan media Massa dalam peliputan kejadian-kejadian teroris dan pemunculan tokoh-tokoh isis teroris, yang terkadang hanyalah kedustaan belaka untuk mendiskriditkan umat Islam. Sedangkan Islam tidak tahu-menahu dan tidak bertanggung jawab atas semua aksi teroris tersebut. Seluruh umat Islam, tokoh-tokoh Islam, pemimpin-pemimpin gerakan Islam dan para ulama' mengingkari segala aksi isis teroris ini. Bahkan mewaspadainya.

Bersamaan dengan itu, tindakan teroris terus berlanjut. Belum reda kejadian disuatu Negara, disusul dengan aksi teror Negara yang lain. Belum hilang tokoh aksi teroris dari layar TV, sudah muncul tokoh baru pelaku aksi teroris yang di siarkan oleh media. Sehingga ujung pembicaraan kepala Negara, pemimpin negara dan para analisis politik selalu mengarah pada masalah teroris. Yang mengenaskan lagi adalah sebagian media ikut tergiring menciptakan berita-berita bohong yang menyebarkan komentar-komentar tokoh yang memburukkan Islam sendiri. Hal ini mengobarkan bentuk perlawanan umat Islam di Negara dalam menghadapi penjajah. Sehingga bentuk perlawanan tersebut terkesan sebagai aksi teroris. Padahal mereka berjuang merebut hak-hak asasi mereka yang direbut oleh bangsa penjajah. Seperti; Negara Afganistan, Palestina dan Irak

Tambang Dan Pengelolaan Lingkungan

Reklamasi Harga Mati. 
         
Oleh : Amarulloh

Fakta membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Secara fisik, Indonesia merupakan wilayah maritim terbesar di dunia yang terdiri atas 17.508 pulau dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, yakni 81.000 km, sementara wilayah lautannya meliputi 5.8 juta km atau 70 persen dari luas territorial Indonesia. Potensi sumber daya alam tersebut sudah barang tentu menjadi kekuatan utama Indonesia (prime mover) sebagai negara yang memiliki potensi alam luar biasa.

ativitas pertambangan di Indonesia memiliki kontribusi besar terhadap negara, dunia pertambangan menjadi indikator tumbuhnya perekonomian bangsa, namun jika dilihat dari sisi lingkungan hidup, pertambangan dianggap paling merusak dibanding kegiatan-kegiatan eksploitasi sumberdaya alam lain. Aktivitas pertambangan dapat mengubah bentuk bentang alam, merusak dan atau menghilangkan vegetasi, menghasilkan limbah tailing (limbah hasil tambang), maupun batuan limbah, serta menguras air tanah dan air permukaan. Jika tidak direhabilitasi, lahan-lahan bekas pertambangan akan membentuk kubangan raksasa dan hamparan tanah gersang yang bersifat asam. Tidak jarang dari kita timbul pertanyaan seputar pertambangan ini, mempersepsikan baik dan buruk tentang hadirnya industri pertambangan di tengah-tengah kehidupan dan lingkungan sekitar.

meski negara sudah mengatur sedemikian rupa melalui regulasi undang-undang tetapi fakta dilapangan masih banyak ditemukan industri tambang “nakal” yang sengaja tidak menjalankan perintah reklamasi undang-undang. dimana menurut amanat yang tercantum dalam UU no 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara (UU Minerbal) adalah dikeluarkannya PP 78 tahun 2010 tentang reklamasi pascatambang, yang menjelaskan bahwa pembangunan pertambangan merupakan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

itu artinya jelas bahwa semua aktivitas pertambangan wajib memperhatikan sektor lingkungan hidup dengan begitu tujuan pembangunan berkelanjutan berwawasan sangat dibutuhkan untuk mencapai pembangunan yang meningkatkan mutu secara menyeluruh baik masa kini maupun masa yang akan datang. meski prinsip pelestarian hutan wajib dilaksanakan kepada ativitas pertambangan namun pemerintah juga harus memberikan ruang gerak yang cukup bagi sektor tambang untuk beroperasi sebagai bagian dari aktivitasnya.