Selasa, 26 Januari 2016

Menggugat Identitas Jakarta




                      foto :nett

Ibu Kota Jakarta, sebagai teras depan Indonesia sepertinya lupa menampilkan ruang rupa yang bercirikan Indonesia, Jakarta bukanlah perwujudan keragaman kebudayaan yang terdiri dari serpihan-serpihan kebudayaan segala penjuru Indonesia.
Bahkan Jakarta hanya layak di sebut sebagai metropolitan yang kehilangan identitas. Di Yogyakarta orang dengan mudah menemukan simbol-simbol kebudayaan, dari arsitektur, gerbang, adat-adat yang masih terpelihara, serta aktifitas seni yang masih kental bermakna sebagai simbol kehidupan.
Rasanya tiap negara-negara maju masih banyak mempertahankan ruang publik, tata ruang kota, lajur-lajur gedung, masih kelihatan sebagai identitas negara. Lalu jika melihat Jakarta, apakah yang terwakilkan sebagai kekhasan Indonesia.Yang ada hanyalah simbol-simbol negatif berupa kemacetan, keruwetan tata ruang, tambal sulam pembangunan, serta budaya urban yang lebih menonjol daripada kegiatan terstruktur yang terkelola dalam ruang lingkup kebudayaan.
Jakarta hanya sekumpulan kaum urban yang sibuk mencari uang, sibuk memanfaatkan hiburan untuk melepaskan diri dari rutinitas, bukan untuk dinikmati sebagai apresiasi tinggi terhadap seni budaya. Maka, meskipun sekarang pameran kebudayaan masih marak, kebudayaan yang tertampilkan itu masih hanya serpihan- serpihan yang belum bisa dinikmati semua penghuninya. Yang ada lagi-lagi hanyalah hiburan di layar kaca yang menampilkan kegagapan budaya karena hanya menampilkan hiburan berdasarkan rating penonton, bukan sebagai produk kreatif kebudayaan.

Jangan-jangan beberapa tahun lagi apa yang dinamakan identitas Jakarta sebagai ibukota hanyalah tinggal dongeng, itupun kalau masih ada bapak atau ibu yang sempat bercerita atau mendongeng kepada anaknya, Sungguh miris.Bukankah sekarang banyak orang terbelenggu dengan alat digital yang memudahkan orang berselancar, mengobral kata, terhubung dengan manusia lain tanpa melihat ekspresi secara utuh.Manusia sudah terbang ke dunia maya, terbang bersama fantasi masing-masing, hidup dalam dunia sendiri-sendiri, namun apakah ruang-ruang yang tersekat itu bisa merekatkan jiwa-jiwa?
Kembali membahas tentang identitas ibu kota yang sudah seperti kota dengan beragam keinginan, beragam kemauan, beragam pemikiran, beragam kepentingan. Jakarta terutama adalah miniatur keinginan masyarakat Indonesia yang tergesa-gesa, masyarakat yang ingin cepat kaya dengan berbagai mimpi-mimpi yang dipaksakan. Jakarta sepertinya sebuah kolam besar dengan gejolak, serta kecipak dahsyat yang menderu-deru.
akhirnya apa yang baik di mata wartawan belum tentu cocok dengan keinginan pedagang, politisi, guru, budayawan. semua mempunyai kepentingan, semua mencari muara berbeda. Akhirnya banyak orang hidup dalam penyakit kejiwaan akut. Mereka yang perfeksionis terjebak dalam aturan-aturan ketat namun berbenturan dengan lingkungan sekitar yang masih serba kacau balau.
Bahkan terorismepun lahir dari hilangnya identitas kebangsaan. Ketika kebanggaan diri sudah hilang, banyak orang terjebak dalam mimpi-mimpi mengawang yang akhirnya tertangkap oleh orang yang secara peka memanfaatkan situasi untuk mengindoktrinasi sehingga seperti kerbau dicucuk hidungnya. Yang akhirnya hanya mengikuti kemauan sang pengendalinya tanpa pernah mendengarkan dan mengikuti suara hati nuraninya.
Semoga tulisan ini bukan yang sebenarnya terjadi, penulis masih berharap Ibu kota berubah dan Ibu kota masuk sebagai identitas budaya yang begitu disegani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar