Senin, 15 Februari 2016

Menanti Kasih Sayang Bupati

Seorang pemimpin adalah seorang penjual harapan.(Napoleon Bonaparte). 65 tahun usia kabupaten Bekasi berdiri setelah pisah akibat proses panjang sebuah pemekaran 19 tahun silam.Sebagai daerah penyangga ibu kota, kabupaten Bekasi selalu jadi magnet kaum urban.Mereka datang silih berganti tanpa henti bahkan tak pernah berhenti.praktis populasi daerah yang memiliki kawasan industri terbesar se-asia ini terus melonjak tajam dari tahun-ke tahun.Data Badan Pusat statistik (BPS) Kabupaten Bekasi 2014 mencatat jumlah penduduk kabupaten Bekasi mencapai 3.112.698 jiwa.

sebagai daerah otonom dengan usia sangat matang seharusnya daerah yang memiliki 23 kecamatan, 5 kelurahan dan 182 Desa dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar se-jawa barat sudah seharusnya mampu mensejahterakan masyarakatnya dengan pantas.Akses kesehatan, pendidikan dan sarana infrastruktur jalan nyatanya masih condong ke wilayah selatan sementara wilayah bagian utara baru sebatas harapan.Pemerintah daerah dirasa masih tebang pilih, masyarakat utara cenderung diabaikan tanpa kasih sayang.

soal pembangunan saja, wilayah Utara seperti “anak tiri” yang harus berjuang untuk mandiri, tanpa ada sentuhan layak Bupati, infrastruktur jalan misalnya di utara sungguh miris dan  memprihatinkan, kalaupun ada sentuhan perbaikan pemerintah hanya melakukan tambal sulam akibatnya selang beberapa bulan ruas jalan yang ditambal pun rusak kondisi ini belum termasuk jalan yang masih beralaskan tanah yang berada di Muara Gembong. Kondisi ini juga sejatinya disadari Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai nahkoda pemerintah daerah namun birahi kepentingan membuat kenyataan samar-samar tanpa kendali.Masyarakat utara seperti memiliki dosa besar kepada pemerintah yang kemudian diabaikan.

padahal jika Bupati serius membangun sebuah daerah nampaknya tidak begitu sulit karena uang yang digunakan sudah siap sedia, Sumber Daya Manusia (SDM) pun menjamur, infrastruktur dianalogikan sebagai lauk-pauk yang harus ada saat makan, oleh sebab itu keberadaan infrastruktur menjadi sangat penting dalam mendukung pembangunan ekonomi dan sosial, karena infrastruktur yang baik tentu mampu meningkatkan efektivitas serta efisiensi bagi dunia usaha maupun sosial kemasyarakatan.  

Masyarakat utara seperti dikecamatan Babelan, Sukatani, Tambelang, Cabangbungin, Muara Gembong hingga Tarumajaya sampai dengan saat ini belum merasakan nikmatnya pembangunan dari hasil pajak yang sudah dibayarkan, warga setempat masih “disiksa” dengan fasilitas apa adanya.

Lantas pertanyaan mendasar adalah mengapa pemerintah hanya condong ke wilayah selatan ? Apa karena disana pusat bisnis dengan berdiri ribuan perusahaan, yang menurut hemat penulis sebagai "lahan basah" padahal di tahun 2015 SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) Kabupaten Bekasi nyaris tembus 1 Milyar rupiah, mengapa uang itu tidak dihabiskan untuk pembangunan di utara, lagi-lagi bupati Neneng tak peduli dengan warganya di wilayah utara. Neneng lebih memilih  berselingkuh. 

Alokasi Pendapan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bekasi sendiri diketahui dari tahun ke tahun terus naik bahkan jumlahnya bisa tembus lebih dari 5 Trilyun, di 2016 saja APBD Kabupaten Bekasi berhasil diketok Rp.5.3 Trilyun. Tetapi pemerintah daerah belum bisa memberikan dampak positif kepada masyarakatnya, kemiskinan justru makin menjamur dan terjadi disemua pelosok desa, Upaya Bupati memberikan terobosan baru untuk menekan kemiskinan dengan membuat program Rutilahu (Rumah Tidak layak Huni) justru dibuat main oleh bawahannya.Praktis kasus-kasus rutilahu banyak beredar menghiasi surat kabar lokal.

Bahkan Data BPS 2013 mencatat jumlah warga miskin dikabupaten Bekasi mencapai 157.700 Kepala Keluarga, angka tersebut belum ditambah jumlah ditahun 2015 akibat gejolak ekonomi yang kian terjun bebas.

Bicara Infrastruktur Jalan, Kabupaten Bekasi seharusnya bisa mencontoh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seperti Kabupaten Bantul, kota Yogyakarta dan Kabupaten Gunung Kidul, di 3 daerah tersebut tak ada sedikit akses jalan yang rusak, masyarakatnya justru "dimanjakan" oleh pemerintah setempat, akses jalan hingga pelosok desa beraspal mulus tak memandang wilayah "basah" atau "kering" semua warga dinilai sama, mereka sama-sama mendapatkan jaminan kesejahteraan dari pemerintah baik pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang memadai.Sementara Masyarakat di Utara Kabupaten Bekasi sepertinya lelah disiksa rindu dengan fasilitas pembangunan yang layak sehingga kemudian masyarakat memilih "pasrah" terhadap pemerintah daerah.

Dalam pernyataannya di sejumlah media Bupati Neneng sering kali menyebut bahwa 2016 sebagai tahun infrastruktur, untuk itu pemerintah harus bergerak dan memulainya dari wilayah Utara, setidaknya langkah ini bisa menyenangkan hati masyarakat setempat yang sudah lama tak disentuh pembangunan terlebih bagi warga di pelosok desa seperti Muara Gembong yang sampai detik ini masih "disiksa" karena buruknya infrastruktur.Kini masyarakat menanti realisasi janji Bupati Bekasi sebagai nahkoda.

Beberapa hasil studi menyebutkan hasil pembangunan infrastruktur memiliki peran di antaranya sebagai katalisator antara proses produksi, pasar, dan konsumsi akhir serta memiliki peranan sebagai social overhead capital.Infrastruktur dipandang sebagai modal memacu pertumbuhan ekonomi.
                                                                                        

Pembangunan infrastruktur mampu menciptakan lapangan kerja dan memiliki multiplier effect kepada industri. Bahkan, dengan kebijakan dan komitmen yang tepat, selain menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur diyakini dapat membantu mengurangi masalah kemiskinan, mengatasi persoalan kesenjangan antar kawasan maupun antar wilayah, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi tekanan urbanisasi yang semuanya bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

Senin, 01 Februari 2016

Klenteng Tek Seng Bio, Saksi Bisu Masuknya Bangsa Tionghoa di Tanah Bekasi






Suasana Sakral Klenteng Tek Seng Bio begitu terasa dengan aroma dupa menyengat di tiap sudut ruangan saat berada ditempat ini, Asap putih hasil pembakaran dupapun begitu kental terlihat. Suasana itu justru menambah kekhusyuan bagi pengunjung dalam melaksanakan ibadah, ditempat ini pula masyarakat Tionghoa meminta kepada tuhannya.Klenteng yang berada di Jl.Fudholi Desa Karangasih Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi ini merupakan salah satu bangunan tertua di Cikarang yang dibangun sejak tahun 1825.Klenteng Tek Seng Bio menjadi saksi bisu awal masuknya bangsa Tionghoa ke tanah Cikarang, Kabupaten Bekasi yang diperkirakan sekitar abad ke-16.

Menurut ketua badan pengurus yayasan Cakra Utama Klenteng Tek Seng Bio Tjetjep Djaja Laksana menjelaskan bahwa klenteng ini memang merupakan salah satu bangunan tertua di Cikarang dan sebelum dibangun di daerah Karangasih yang saat ini, nama Tek Seng Bio sempat dibangun di kecamatan Karangbahagia namun pada masa itu kondisinya kurang kondusif maka masyarakat Tionghoa memindahkannya ke kampung Tepekong atau yang terkenal saat ini yaitu Jl.Fudholi."Dulu awalnya di Karangbahagia cuma pada waktu itu kondisinya kurang kondusif trus dibangunlah pada tahun sekitar 1825 di karangasih, dulu namanya kampung Tepekong"Ujarnya.

Lebih lanjut ia Mengatakan bahwa berdasarkan cerita dari turun temurun sebenarnya bangsa Tionghoa sudah masuk ke tanah Cikarang sejak abad ke 16."Kalau dari cerita-cerita  leluhur saya dulu orang-orang Cina udah ada di Cikarang dari abad 16, makanya sekarang banyak orang-orang Tionghoa di sekitaran Klenteng ini sampe sekarang dan 85% orang Tionghoa, makanya orang-orang dulu sampe sekarang bilangnya kalo kemari kampung Tepekong meski udah diganti Jl.Fudholi"Ungkapnya

Klenteng yang memiliki luas bangunan 60x50 meter ini sudah banyak mengalami perubahan, namun tidak kehilangan arsitektur aslinya. Bagian bangunan yang masih asli yaitu pada bagian pintu utama masuk ruangan disitu terlihat pintu kusen dengan dua daun pintu khas kayu buatan jaman dahulu kala. Sementara di bagian lain yaitu dua Tambur dan Peti, Tambur tidak memiliki hiasan atau ukiran namun masih berfungsi sebagai alat tetabuh pada saat acara cap gomeh.

Sekitaran Klenteng merupakan daerah pemukiman penduduk baik keturunan Tionghoa maupun warga asli pribumi tetapi umumnya didominasi oleh warga keturunan Tionghoa.bangunan-bangunan di tepi jalan raya Cikarang tepat di depan pasar lama Cikarang dengan arsitektur China yang dulunya sebagai pertokoan juga hingga saat ini juga jejaknya masih terlihat jelas.


Klenteng ini sebagai salah satu bukti bahwa Kabupaten Bekasi sejak abad ke-16 M telah mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina dan secara budaya telah terjadi akulturasi secara damai. Posisinya yang strategis di tengah kota juga menyimpan cerita tersendiri mengapa Bangsa Tionghoa sampai di tanah Cikarang.Wilayah Bekasi pada masa kejayaan Belanda merupakan wilayah yang strategis, Belanda menjadikan Bekasi sebagai satu kota penghubung pemerintahan kolonial, hal ini dibuktikan dengan adanya Kantor Kawedanaan Cikarang di Jl. Gatot Subroto yang kini menjadi Perpustakaan Umum Kabupaten Bekasi.

Menurut cerita Tjetjep Djaja bahwa Bangsa Tionghoa dahulu menjadikan Cikarang sebagai lokasi perdagangan baru selain Batavia, letaknya yang juga tak jauh dari pesisir utara membuat peredaran barang lebih mudah, Bangsa Tionghoa membangun wilayah perekonomian baru di Cikarang seiring dengan dibukanya Kantor Kewedanaan Cikarang, (Kewedanaan adalah perwakilan kepala pemerintahan di bawah bupati diatas kecamatan).”Yang sekarang perpustakaan umum dekat kantor Polsek Cikarang dulunya itu kewedanan dan perekonomian Cikarang pada saat itu begitu maju”kata pria warga karangasih Rt.001/001 Kecamatan Cikarang Utara Bekasi.

Di tengah hiruk pikuk kemajuan ekonomi dan pembangunan Cikarang, Klenteng Tek Seng Bio tetap terjaga keaslian arsitekturnya meski sebagian sudah dipugar dengan diapit bangunan-bangunan tua disekelilingnya yang semakin pudar dimakan usia. Tek Seng Bio menjadi saksi bisu betapa Cikarang pernah mengalami masa kejayaan ekonomi.”Tek Seng Bio menjadi bukti alkulturasi budaya di Kabupaten Bekasi dan saya merasakan itu betapa jayanya pada masa itu sebelum berdirinya mal-mal dan mini market” tandasnya.

Kamis, 28 Januari 2016

Wajah Pasar Bekasi di Perbatasan






Puluhan mata memandang sinis saat saya datang dilokasi pasar diperbatasan antara Kabupaten Bekasi dan Karawang, namanya pasar Bojong letaknya berada di kecamatan Kedungwaringin Kabupaten Bekasi.Belasan lelaki bertubuh kekar terus meneropong dari warung-warung kopi dengan pandangan tajam kesana kemari.Tiba di pasar Kedatangan langsung disambut bau busuk yang cukup menyengat, suasana makin prihatin saat melihat pasar diselimuti sampah-sampah menumpuk ditiap sudut dengan sekat-sekat toko tak beraturan yang sebagian lainnya memaksa berdiri dibawah jembatan rel kereta api.

Pasar tradisional yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan 'pasar Bojong" memang selalu ramai dikunjungi, tidak hanya warga setempat tetapi warga lain yang berada diperbatasan juga turut meramaikan suasana ekonomi.bahkan disebut-sebut lokasi pasar Bojong menjadi andalan masyarakat di dua kabupaten sebagai pusat transaksi jual beli.

jika dilihat dari letaknya pasar tradisional ini berdampingan dengan sungai Citarum sebagai penanda garis perbatasan wilayah, praktis aktivitasnya bisa dilihat dari kejauhan terutama di atas jembatan sebagai penghubung antar dua kabupaten.aroma transaksi jual-beli di pasar tradisional ini memang tidak hanya terjadi bagi warga Bekasi saja tetapi masyarakat Karawang pun turut menghidupkan perekonomian pasar.

uniknya pedagang pasar di tempat ini tidak hanya mengandalkan toko, sebagian dari mereka memanfaatkan lahan kosong yang ada dibawah jembatan rel kereta api untuk mengais rezeki dengan membuka lapak-lapak sederhana, deretan lapak-lapak itu bahkan nyaris mepet dengan bibir sungai Citarum, saat kereta datang transaksi sementara di pending untuk menunggu kondisi senyap dari suara deruan kereta api yang melintas diatasnya.



sebagai pusat ekonomi warga dua kabupaten, pasar tradisional ini mulai beroperasi pada pukul 02.00 WIB, namun di jam-jam itu dominasi pedagang merupakan para pedagang sayur, ikan serta sejumlah kebutuhan pokok lain, menjelang matahari terbit suasana pasar semakin ramai pedagang pun sibuk.

"kalau malam itu untuk pasar sayur mayur dan sebagian ada yang menjual kebutuhan pokok seperti kelontong, karena posisinya digaris perbatasan jadi selalu ramai terutama warga Karawang,"Ujar salah seorang warga Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi David (32).

lalu lalang keramaian pasar ini memang terlihat sangat hidup sebagai pusat ekonomi masyarakat dua kabupaten itu meski kondisinya sangat prihatin karena banyak tumpukan sampah di beberapa sudut yang seolah tidak diurus pihak pengelola pasar yang kemudian membuat aroma pusat transaksi tersebut bau.

Animo warga dua kabupaten ke tempat ini pun sangat tinggi, diperkirakan perputaran uang yang masuk di pasar dengan sebutan "bojong" bisa mencapai ratusan juta rupiah tiap harinya, sebagai pusat ekonomi masyarakat keberadaannya sudah menjadi primadona bagi sebagaian warga sebagai aktivitas jual-beli dengan budaya tawar menawar yang menjadi ciri tersendiri bagi hadirnya pasar "Bojong"ditengah gempuran pasar-pasar modern, keberedaannya tetap bertahan dan menjadi diri sendiri sebagai kebutuhan masyarakat.

Selasa, 26 Januari 2016

Menggugat Identitas Jakarta




                      foto :nett

Ibu Kota Jakarta, sebagai teras depan Indonesia sepertinya lupa menampilkan ruang rupa yang bercirikan Indonesia, Jakarta bukanlah perwujudan keragaman kebudayaan yang terdiri dari serpihan-serpihan kebudayaan segala penjuru Indonesia.
Bahkan Jakarta hanya layak di sebut sebagai metropolitan yang kehilangan identitas. Di Yogyakarta orang dengan mudah menemukan simbol-simbol kebudayaan, dari arsitektur, gerbang, adat-adat yang masih terpelihara, serta aktifitas seni yang masih kental bermakna sebagai simbol kehidupan.
Rasanya tiap negara-negara maju masih banyak mempertahankan ruang publik, tata ruang kota, lajur-lajur gedung, masih kelihatan sebagai identitas negara. Lalu jika melihat Jakarta, apakah yang terwakilkan sebagai kekhasan Indonesia.Yang ada hanyalah simbol-simbol negatif berupa kemacetan, keruwetan tata ruang, tambal sulam pembangunan, serta budaya urban yang lebih menonjol daripada kegiatan terstruktur yang terkelola dalam ruang lingkup kebudayaan.
Jakarta hanya sekumpulan kaum urban yang sibuk mencari uang, sibuk memanfaatkan hiburan untuk melepaskan diri dari rutinitas, bukan untuk dinikmati sebagai apresiasi tinggi terhadap seni budaya. Maka, meskipun sekarang pameran kebudayaan masih marak, kebudayaan yang tertampilkan itu masih hanya serpihan- serpihan yang belum bisa dinikmati semua penghuninya. Yang ada lagi-lagi hanyalah hiburan di layar kaca yang menampilkan kegagapan budaya karena hanya menampilkan hiburan berdasarkan rating penonton, bukan sebagai produk kreatif kebudayaan.

Jangan-jangan beberapa tahun lagi apa yang dinamakan identitas Jakarta sebagai ibukota hanyalah tinggal dongeng, itupun kalau masih ada bapak atau ibu yang sempat bercerita atau mendongeng kepada anaknya, Sungguh miris.Bukankah sekarang banyak orang terbelenggu dengan alat digital yang memudahkan orang berselancar, mengobral kata, terhubung dengan manusia lain tanpa melihat ekspresi secara utuh.Manusia sudah terbang ke dunia maya, terbang bersama fantasi masing-masing, hidup dalam dunia sendiri-sendiri, namun apakah ruang-ruang yang tersekat itu bisa merekatkan jiwa-jiwa?
Kembali membahas tentang identitas ibu kota yang sudah seperti kota dengan beragam keinginan, beragam kemauan, beragam pemikiran, beragam kepentingan. Jakarta terutama adalah miniatur keinginan masyarakat Indonesia yang tergesa-gesa, masyarakat yang ingin cepat kaya dengan berbagai mimpi-mimpi yang dipaksakan. Jakarta sepertinya sebuah kolam besar dengan gejolak, serta kecipak dahsyat yang menderu-deru.
akhirnya apa yang baik di mata wartawan belum tentu cocok dengan keinginan pedagang, politisi, guru, budayawan. semua mempunyai kepentingan, semua mencari muara berbeda. Akhirnya banyak orang hidup dalam penyakit kejiwaan akut. Mereka yang perfeksionis terjebak dalam aturan-aturan ketat namun berbenturan dengan lingkungan sekitar yang masih serba kacau balau.
Bahkan terorismepun lahir dari hilangnya identitas kebangsaan. Ketika kebanggaan diri sudah hilang, banyak orang terjebak dalam mimpi-mimpi mengawang yang akhirnya tertangkap oleh orang yang secara peka memanfaatkan situasi untuk mengindoktrinasi sehingga seperti kerbau dicucuk hidungnya. Yang akhirnya hanya mengikuti kemauan sang pengendalinya tanpa pernah mendengarkan dan mengikuti suara hati nuraninya.
Semoga tulisan ini bukan yang sebenarnya terjadi, penulis masih berharap Ibu kota berubah dan Ibu kota masuk sebagai identitas budaya yang begitu disegani.

Kamis, 21 Januari 2016

Media Massa Senjata Barat Menggebuk Seseorang


Ilustrasi : Media Massa sebagai alat senjata perusak moral diera digital saat ini

Oleh : Muhson Arrosyid, Amarulloh
"Siapa saja yang bisa memegang kendali media massa (Informasi), baik elektronik maupun cetak berarti ia bisa menguasai dunia, Kata-kata ini dipahami oleh bangsa yahudi zionis dan golongan anti Islam. Karena dengan memegang kendali media Massa Informasi mereka bisa menyetir dan mengarahkan masyarakat, baik untuk menghancurkan atau membangun suatu masyarakat. Dengan Informasi mereka bisa menunudukkan musuh atau orang yang anggap musuh. Melalui penyesatan Informasi, fitnah, memutar-balikkan fakta, dan pencitraan negatif dengan menggunakan Kalimat-kalimat, Kata-kata, Gambar, Film, dan lain-lain. Inilah yang sedang terjadi pada umat Islam sedunia dan umat Islam Indonesia khususnya. Yaitu pelecehan agama dan umat Islam lewat media TV dan Massa lainnya. Klo pangeran jaka Umbaran bahasa kita terkena informasi najis Mogholadhoh,
Peristiwa 11 September 2001 hancurnya gedung WTC dan Pentagon di Negara adi kuasa telah berlalu. Kemarahan Negara adi kuasapun telah di lepas tanpa kendali kepada dunia. Ada kemarahan yang berdarah-darah dan adapula perang media, mungkin perang itu disebut oleh presiden Negara adi kuasa sebagai perang salib.Lalu kitapun tergiring untuk kembali menengok kebelakang dengan pengalaman pahit dan begitu memilukan yang oleh banyak orang di duga bahwa umat manusia telah mampu melampuinya. Padahal ini adalah Sunatullah yang tidak Akan pernah meleset, Sunatullah dalam bentuk konflik dan Akan terus berkepanjangan.Hikmah sejarah tidak berbohong, hikmah itu menyatakan bahwa kita adalah umat yang menjadi sasaran musuh sampai kiyamat. Namun cobaan yang menimpa umat ini Inysa Allah Swt Akan berlalu dan berakhir. Akan tetapi cobaan seperti umat Islam Akan terus ada dan sampai waktu yang di kehendaki Allah Swt. Itulah pelajaran agar kita selalu ingat tentang beberapa pengalaman umat Islam beberapa waktu yang lampau. Terbukti kekawatiran kami bahwa peristiwa 11 September 2001 mungkin Akan di jadikan tongkat untuk menggebuk kaum Muslimin dan menggelar peperangan yang menghancurkan umat Islam. Begitulah yang terjadi semenjak hari pertama peristiwa 11 September 2001 ketika media Massa barat dan Zionis secara cepat menuduh kaum Muslimin khususnya di negri kita baik teroris atau isis berada dibelakang peristiwa itu dan sekaligus sebagai pelakunya.
Mungkin saja waktu itu, tuduhan jahat memang telah di siapkan. Tanpa perlu menunggu penyidikan atau penelitian. Tentu saja tuduhan itu memunculkan keraguan dari para pengamat yang akhirnya mereka berkesimpulan bahwa TERORIS (terong di iris-iris dadi sayur) atau ISIS (semriwing), terjadi dalam rangka menyempurnakan rencana licik yahudi dan barat terhadap dunia Islam. Hanya saja kita melihat kegagalan Negara adi kuasa begitu cepat. Hal itu terjadi karena keberadaan Negara adi kuasa di Afganistan. Dilema yang di alami Negara adi kuasa di Irak tidak perlu lagi mendapat penjelasan atau komentar, dan kegagalan AS adalah bukti kebencian terhadap umat Islam yang mengenakan identitas Islam.
 
Hal ini berarti kegagalan sang pemimpin tunggal setelah para Agent-agentnya gagal melaksanakan rencana-rencana dan tujuan-tujuannya. Memberikan alasan kuat untuk mengatakan bahwa kegagalan Amirika berarti awal dari episode akhir Negara adi kuasa yang tidak Akan berlangsung lama jika diukur dengan umur Negara dan sejarahnya.Kita bisa melihat agent Zionis telah gagal dalam menghadapi perlawanan para pemilik hak di Palestina dan di Negara-negara Islam. Para penguasa Arab juga telah gagal mengekang kebangkitan Islam dan menghentikan perjalanannya. Inilah yang paling di takuti Negara adi kuasa dan barat. Sesuatu yang mendorong untuk secara sendiri ikut turun ke Medan laga konflik.

Inilah yang menjadikan bangkrutnya model peradaban barat yang diperankan oleh Negara adi kuasa dalam memimpin umat manusia. Telah tiba saatnya bagi Negara adi kuasa untuk mundur kebelakang dan meningglkan panggung kepemimpinannya setelah umat manusia ini menderita berbagai kesengsaraan dan kehinaan di bawah kepemimpinannya.

Kita tahu bahwa propaganda yahudi ini bertujuan untuk menggaruk kekayaan umat Islam dan Negara-nagara Islam yang memiliki sumber kekuatan alam. Sumber kekayaan mereka diraup oleh Negara tamak, sebagai Negara penjajah baru di zaman modern ini. Mereka kembali datang ke Negara-negar Islam dengan pasukan militer untuk menguasai Negara Islam. Mereka lakukan setelah sistem sekuler mereka gagal menjaga kepentingan mereka, ditambah lagi mereka merasakan adanya ancaman-ancaman Negara sekitarnya. Tuntutan kemerdekaan dan demokrasi. Ancaman yang mereka rasakan terutama terjadi pada kepentingan-kepentingan yang mereka kuasai, mereka menguasai sumber-sumber alam dari Negara Islam. Terutama minyak bumi, ditambah lagi agenda mereka mengawal Negara yahudi israil dari ancaman Negara Islam. Seperti ancaman dari gencarnya perlawanan rakyat Islam di palastina terhadap penjajah yahudi Israel. Masa depan Israil semakin terancam. Selain akibat dari meningkatnya perlawanan rakyat palestina. Juga akibat peningkatan tekanan dan juga populasi penduduk dan tekanan jiwa. Peningkatan ini terjadi setelah terbongkarya rencana-rencana busuk mereka di mata dunia. Sehingga Negara Arab dan Negara Islam sedunia semakin berani memberikan dukungan materi pada perlawanan rakyat palestina, meskipun mereka adalah pemerintah yang otoriter dan diktator.

Propaganda negatif terhadap Islam ini juga bertujuan untuk memojokkan Islam dengan sebutan Islam Isis atau teroris. Cara yang mereka lakukan adalah Menguasai pandangan dan persepektif manusia Akan aksi isis / teroris yang kejam. Aksi yang di lakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak di kenal. Tidak seorangpun tahu dalang di balik semua aksi teroris dan perancangnya, meskipun pelaku-pelaku yang melakukan aksi isis / teroris ini adalah orang-orang Islam. Tetapi kita tidak mengetahui jalas strategi dan rencana ini serta rencana penyusupan badan badan intelijen. Kerja ini kemudian di sempurnakan dengan penguasaan media Massa dalam peliputan kejadian-kejadian teroris dan pemunculan tokoh-tokoh isis teroris, yang terkadang hanyalah kedustaan belaka untuk mendiskriditkan umat Islam. Sedangkan Islam tidak tahu-menahu dan tidak bertanggung jawab atas semua aksi teroris tersebut. Seluruh umat Islam, tokoh-tokoh Islam, pemimpin-pemimpin gerakan Islam dan para ulama' mengingkari segala aksi isis teroris ini. Bahkan mewaspadainya.

Bersamaan dengan itu, tindakan teroris terus berlanjut. Belum reda kejadian disuatu Negara, disusul dengan aksi teror Negara yang lain. Belum hilang tokoh aksi teroris dari layar TV, sudah muncul tokoh baru pelaku aksi teroris yang di siarkan oleh media. Sehingga ujung pembicaraan kepala Negara, pemimpin negara dan para analisis politik selalu mengarah pada masalah teroris. Yang mengenaskan lagi adalah sebagian media ikut tergiring menciptakan berita-berita bohong yang menyebarkan komentar-komentar tokoh yang memburukkan Islam sendiri. Hal ini mengobarkan bentuk perlawanan umat Islam di Negara dalam menghadapi penjajah. Sehingga bentuk perlawanan tersebut terkesan sebagai aksi teroris. Padahal mereka berjuang merebut hak-hak asasi mereka yang direbut oleh bangsa penjajah. Seperti; Negara Afganistan, Palestina dan Irak

Tambang Dan Pengelolaan Lingkungan

Reklamasi Harga Mati. 
         
Oleh : Amarulloh

Fakta membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Secara fisik, Indonesia merupakan wilayah maritim terbesar di dunia yang terdiri atas 17.508 pulau dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, yakni 81.000 km, sementara wilayah lautannya meliputi 5.8 juta km atau 70 persen dari luas territorial Indonesia. Potensi sumber daya alam tersebut sudah barang tentu menjadi kekuatan utama Indonesia (prime mover) sebagai negara yang memiliki potensi alam luar biasa.

ativitas pertambangan di Indonesia memiliki kontribusi besar terhadap negara, dunia pertambangan menjadi indikator tumbuhnya perekonomian bangsa, namun jika dilihat dari sisi lingkungan hidup, pertambangan dianggap paling merusak dibanding kegiatan-kegiatan eksploitasi sumberdaya alam lain. Aktivitas pertambangan dapat mengubah bentuk bentang alam, merusak dan atau menghilangkan vegetasi, menghasilkan limbah tailing (limbah hasil tambang), maupun batuan limbah, serta menguras air tanah dan air permukaan. Jika tidak direhabilitasi, lahan-lahan bekas pertambangan akan membentuk kubangan raksasa dan hamparan tanah gersang yang bersifat asam. Tidak jarang dari kita timbul pertanyaan seputar pertambangan ini, mempersepsikan baik dan buruk tentang hadirnya industri pertambangan di tengah-tengah kehidupan dan lingkungan sekitar.

meski negara sudah mengatur sedemikian rupa melalui regulasi undang-undang tetapi fakta dilapangan masih banyak ditemukan industri tambang “nakal” yang sengaja tidak menjalankan perintah reklamasi undang-undang. dimana menurut amanat yang tercantum dalam UU no 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara (UU Minerbal) adalah dikeluarkannya PP 78 tahun 2010 tentang reklamasi pascatambang, yang menjelaskan bahwa pembangunan pertambangan merupakan pembangunan yang berwawasan lingkungan.

itu artinya jelas bahwa semua aktivitas pertambangan wajib memperhatikan sektor lingkungan hidup dengan begitu tujuan pembangunan berkelanjutan berwawasan sangat dibutuhkan untuk mencapai pembangunan yang meningkatkan mutu secara menyeluruh baik masa kini maupun masa yang akan datang. meski prinsip pelestarian hutan wajib dilaksanakan kepada ativitas pertambangan namun pemerintah juga harus memberikan ruang gerak yang cukup bagi sektor tambang untuk beroperasi sebagai bagian dari aktivitasnya.